Apa Gender penting Di Sulawesi Selatan ?

Apa Gender penting Di Sulawesi Selatan ?

Dengan mengusung tema "Mengubah Dunia Kita: Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan", SDGs merupakan rencana aksi global yang berisi 17 Tujuan dan 169 Target untuk 15 tahun ke depan (berlaku sejak 2016 hingga 2030), guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan. SDGs berlaku bagi seluruh negara (universal), sehingga seluruh negara tanpa kecuali negara maju memiliki kewajiban moral untuk mencapai Tujuan dan Target SDGs.

Berbeda dari pendahulunya Millenium Development Goals (MDGs), SDGs dirancang dengan melibatkan seluruh aktor pembangunan, baik itu Pemerintah, Civil Society Organization (CSO), sektor swasta, akademisi, dan sebagainya.

Tidak Meninggalkan Satu Orangpun merupakan Prinsip utama SDGs. Dengan prinsip tersebut setidaknya SDGs harus bisa menjawab dua hal yaitu, Keadilan Prosedural yaitu sejauh mana seluruh pihak terutama yang selama ini tertinggal dapat terlibat dalam keseluruhan proses pembangunan dan Keadilan Subtansial yaitu sejauh mana kebijakan dan program pembangunan dapat atau mampu menjawab persoalan-persoalan warga terutama kelompok tertinggal.

Pembangunan manusia adalah perluasan kebebasan yang nyata yang dinikmati oleh manusia dan melekat pada berbagai aspek, yaitu pemberdayaan, partisipasi, dan kerjasama, keamanan, keberlanjutan, dan kesetaraan, (Sen, 1989). Jika melihat komposisi jumlah penduduk, sumber daya manusia laki-laki dan perempuan hampir sama secara kuantitas. Jika terjadi kesetaraan gender dalam hal hak, tanggung jawab, kapabilitas dan peluang yang sama, niscaya akan memperkuat kemampuan suatu wilayah untuk berkembang. Penguatan sistem penyediaan, pemutakhiran, dan pemanfaatan data terpilah gender sangatlah penting untuk penyusunan, pemantauan, dan evaluasi kebijakan/program/kegiatan pembangunan. Pengukuran pencapaian pembangunan manusia berbasis gender menjadi hal yang sangat diperlukan.

 Isu gender menjadi salah satu poin dalam tujuan pembangunan berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SDGs). Kesetaraan gender tercantum dalam tujuan SDGs yang ke-5, yaitu “Mencapai Kesetaraan Gender dan Memberdayakan Kaum Perempuan”. Kesetaraan ini meliputi sisi kesehatan, pendidikan, dan variabel sosial ekonomi lainnya, selain secara khusus dicantumkan dalam tujuan kelima, isu gender juga tercakup pada hampir seluruh tujuan dalam tujuan pembangunan berkelanjutan.

Budaya yang masih berkembang di Indonesia adalah pemahaman bahwa tanggung jawab perempuan adalah pada sektor rumah tangga atau sektor internal, sementara laki-laki pada sektor publik. Partisipasi perempuan di sektor formal perlu terus ditingkatkan, agar pemberdayaan perempuan semakin bergerak positif yang akan meningkatkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.

Indeks Pembangunan Gender (IPG) menjadi salah satu alat dalam melihat  keberhasilan pemerintah dalam implementasi program-program yang telah dicanangkan terkait gender dalam nawacita maupun SDGs. IPG mengukur pencapaian dimensi dan variabel yang sama seperti IPM tetapi dipisahkan dalam porsi laki-laki dan perempuan.

IPG merupakan agregasi dari tiga dimensi, yaitu kesehatan, pendidikan, serta standar hidup layak. Dimensi kesehatan diwakili oleh Angka Harapan Hidup saat lahir (AHH), dimensi pendidikan diwakili oleh Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-Rata Lama Sekolah (RLS), dan dimensi Standar hidup layak diwakili oleh pengeluaran perkapita yang disesuaikan.

1.Dimensi Kesehatan
                Angka Harapan Hidup (AHH) merupakan salah satu indikator derajat kesehatan selain angka kesakitan, dan angka kematian bayi yang dijadikan tolak ukur dari kinerja pemerintah dalam upaya melaksanakan pembangunan kesehatan. Pemerintah mempunyai peranan penting dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Disamping itu, setiap individu juga bertanggung jawab terhadap kesehatan dirinya, keluarganya dan lingkungannya. Kemajuan dalam pembangunan kesehatan akan mempunyai pengaruh terhadap pembangunan nasional dan sebaliknya pembangunan nasional akan mempunyai dampak penting terhadap derajat kesehatan penduduk.
2. Dimensi Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu aspek yang dapat digunakan untuk melihat kesetaraan gender. Semakin bagus kualitas pendidikan, maka semakin berkurang kesenjangan gender. Pendidikan umumnya dibagi menjadi tahap seperti prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah dan kemudian perguruan tinggi/ universitas.
3. Dimensi Standar Hidup Layak
Ukuran capaian pembangunan manusia dari sisi ekonomi dilihat dari dimensi standar hidup layak, yang menjadi dimensi berikutnya dalam konteks penghitungan indikator IPG. Standar hidup layak diwakili oleh pengeluaran perkapita yang disesuaikan.


Provinsi Sulawesi Selatan merupakan daerah yang relatif lebih maju dibanding dengan provinsi lainnya di Kawasan Timur Indonesia sehingga terkenal dengan sebutan Pintu Gerbang Indonesia Timur. Sejak tahun 1960, pemerintah telah memprioritaskan sektor pertanian sebagai sektor penggerak utama pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan. Dalam periode 1960 hingga sekarang sektor pertanian memberikan sumbangan terbesar terhadap perekonomian, predikat sebagai lumbung padi nasional mengukuhkan posisi Sulawesi Selatan sebagai produsen tanaman pangan yang cukup potensial namun tidak dipungkiri kecenderungan besarnya sumbangan sektor pertanian semakin menurun setiap tahunnya. Sektor lainnya yang juga menyerap tenaga kerja cukup besar adalah sektor perdagangan dan jasa-jasa.


Dilihat dari komposisi penduduk tahun 2018, secara umum jumlah penduduk perempuan lebih besar dibandingkan dengan penduduk laki laki dihampir semua kelompok umur, kecuali kelompok umur 0 hingga 24 tahun masih didominasi oleh jumlah penduduk laki laki.

 Besarnya komposisi jumlah penduduk perempuan dibanding laki-laki perlu dilihat sebagai potensi, mengingat peran penting perempuan dalam berbagai lini kehidupan. Dari komposisi penduduk, usia produktif penduduk, yaitu pada kelompok usia 15-64 tahun, di dominasi oleh kaum perempuan. Komposisi penduduk perempuan yang besar merupakan aset dan potensi wilayah, namun sebaliknya, jika perempuan tidak mampu berkarya secara produktif, baik untuk pribadi, keluarga maupun ranah masyarakat, maka justru akan menjadi beban bagi wilayah.


Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa IPG di Sulawesi Selatan secara umum tinggi setiap tahun. semakin mendekati angka 100, maka kesenjangan gender semakin kecil dan begitu pula sebaliknya, semakin jauh dari angka 100, maka kesenjangan gender semakin tinggi.

Dari hal ini mengindikasikan bahwa jenis kelamin/gender tidak menjadi tolok ukur seseorang untuk mendapatkan pekerjaan ataupun memperoleh pendidikan yang kompeten di Sulawesi Selatan.

Serta dengan ini pemerintah Sulawesi Selatan diharapkan untuk dapat mempertahankan angka ini dengan selalu memberikan arahan akan pentingnya partisipasi seluruh kalangan tanpa memandang ras, umur, maupun jenis kelamin. Dengan pastisipasi dari seluruh pihak dari pemerintah pusat dan daerah, parlemen, kalangan akademisi, pihak swasta, media, organisasi masyarakat, dan utamanya dari para pemuda sebagai penerus bangsa agar tujuan SGD’s untuk mencapai keseteraan gender dan pemberdayaan perempuan didalam segala aspek utamanya pada kesehatan, Pendidikan dan pertumbuhan ekoomi di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Hidup

Suatu saat nanti..